Mahasiswa Nepal di Jepang Menapaki Jalur yang Kian Berkembang dari Pendidikan Menuju Dunia Kerja
22 Jun 2026 - oleh : KarirJepang.id
22 Jun 2026 - oleh : KarirJepang.id
Ketika Dipu Tamang tiba di Jepang dari Nepal pada tahun 2024, ia menjadi bagian dari gelombang generasi muda yang semakin memandang Jepang bukan sekadar sebagai tujuan studi tradisional, melainkan sebagai jalur yang terstruktur menuju pekerjaan dan peluang jangka panjang.
Pria berusia 22 tahun itu lulus dari Shinjuku Heiwa Japanese Language School pada bulan Maret dan kini menempuh pendidikan bisnis internasional di sebuah sekolah kejuruan di Tokyo. Ia menjalani pekerjaan paruh waktu sebagai pegawai minimarket dan petugas kebersihan hotel untuk membantu menutupi biaya hidupnya.
“Awalnya saya tertarik pada budaya pop Jepang,” katanya. “Kemudian saya ingin mempelajari bahasanya. Sekarang, saya bisa membayangkan membangun masa depan di sini.”
Ratusan kilometer dari sana, mahasiswa Nepal lainnya, Bhagawati Bhandari yang berusia 26 tahun, menempuh jalur yang serupa. Setelah belajar selama dua tahun di Saga Language Center, ia lulus pada musim semi tahun ini dan pindah ke Fukuoka untuk melanjutkan pendidikan di sekolah kejuruan yang berfokus pada bidang perhotelan. Saat ini ia bekerja paruh waktu di sebuah restoran yakiniku (daging panggang Jepang) sambil mempersiapkan karier di industri tersebut.
“Saya merasa Jepang akan memberi saya kesempatan untuk berkembang dari segi budaya, pendidikan, dan pekerjaan,” ujarnya. “Di Nepal, saya tidak akan memiliki peluang seperti yang saya miliki sekarang.”
Keduanya merupakan bagian dari gelombang rekor mahasiswa internasional yang sedang mengubah wajah pendidikan di Jepang.
Menurut data Japan Student Services Organization (JASSO), hingga Mei 2025 Jepang menampung 408.069 mahasiswa internasional, jauh melampaui target pemerintah yang ditetapkan hanya beberapa tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, lebih dari 100.000 berasal dari Nepal, menjadikannya negara asal mahasiswa internasional terbesar kedua setelah Tiongkok.

Bhagawati Bhandari bekerja paruh waktu untuk membiayai studinya sambil mempersiapkan karir di industri perhotelan Jepang.
Angka tersebut mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam komposisi mahasiswa internasional di Jepang, dengan pertumbuhan pesat dari negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
“Jumlah mahasiswa Nepal yang kini telah melampaui 100.000 orang merupakan transformasi yang luar biasa,” kata Dipesh Kharel, asisten profesor di Universitas Tokyo yang meneliti migrasi warga Nepal ke Jepang. “Hal ini menunjukkan bahwa Jepang telah menjadi salah satu tujuan paling penting bagi mobilitas sosial dan ekonomi generasi muda Nepal.”
Ia menyebut penyebaran informasi melalui media sosial, reputasi Jepang sebagai negara yang aman, bersih, dan dapat dipercaya, serta keberadaan komunitas dan bisnis migran sebagai faktor yang meningkatkan minat untuk pindah ke Jepang.
“Ditambah dengan meningkatnya frustrasi akibat ketidakstabilan politik, terbatasnya peluang kerja, dan ketidakpastian di Nepal, Jepang semakin dipandang sebagai negara tempat generasi muda dapat mengejar pendidikan, pekerjaan, dan masa depan yang lebih baik secara bersamaan,” ujarnya.
Menurut JASSO, jumlah siswa di sekolah bahasa Jepang meningkat menjadi 140.174 orang pada tahun 2025, sementara sekolah kejuruan juga mencatat peningkatan yang signifikan. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya permintaan sekaligus peran sekolah bahasa dan sekolah kejuruan sebagai tahapan berurutan dalam sistem pendidikan Jepang.
Kharel mengatakan bahwa struktur tersebut telah membantu mengubah pendidikan menjadi jalur yang lebih terorganisasi menuju pekerjaan dan pemukiman jangka panjang.
“Penelitian saya menunjukkan bahwa konsultan pendidikan dan sekolah bahasa bukan sekadar perantara,” katanya. “Mereka adalah institusi penting yang mengorganisasi dan mempertahankan sistem migrasi ini.”
Ia menelusuri perubahan tersebut hingga periode setelah Gempa Besar Jepang Timur tahun 2011, ketika menurunnya jumlah pendaftar dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan mendorong sekolah-sekolah bahasa mencari pasar baru. Nepal kemudian menjadi salah satu sumber utama mahasiswa dalam perubahan tersebut.

Kelas sedang berlangsung di Saga Language Center, tempat 190 siswa internasional terdaftar per Juni, dengan 119 di antaranya berasal dari Nepal.
Seiring waktu, jaringan perekrutan berkembang melampaui Kathmandu hingga ke kota-kota seperti Pokhara, Chitwan, dan Nepalgunj, tempat berbagai konsultan kini menyediakan informasi, bantuan pendaftaran, serta panduan mengenai pilihan studi dan pekerjaan di Jepang.
“Dalam konteks ini, pertumbuhan luar biasa jumlah mahasiswa Nepal seharusnya dipahami bukan hanya sebagai hasil pilihan individu, tetapi sebagai produk dari infrastruktur migrasi yang berkembang baik yang menghubungkan keluarga, konsultan pendidikan, sekolah bahasa, pemberi kerja, dan kebijakan imigrasi,” jelas Kharel.
Bagi banyak mahasiswa, belajar di Jepang bukan semata-mata didorong oleh cita-cita, tetapi juga oleh pertimbangan finansial. Karena itu, banyak yang harus bekerja sambil belajar.
Pemegang visa pelajar di Jepang diizinkan bekerja hingga 28 jam per minggu (atau 40 jam selama liburan panjang), sehingga lebih mudah bagi mereka untuk membiayai hidup sambil menempuh pendidikan. JASSO memperkirakan sekitar 65 persen mahasiswa internasional yang membiayai pendidikannya sendiri bekerja paruh waktu dengan pendapatan rata-rata sekitar 81.000 yen (sekitar 500 dolar AS) per bulan. Hampir 40 persen bekerja di sektor layanan makanan.
Banyak mahasiswa datang ke Jepang setelah melakukan komitmen finansial yang besar, sering kali dengan dukungan tabungan keluarga atau pinjaman. Bagi sebagian orang, hal ini berarti mereka harus segera bekerja paruh waktu untuk membantu menutupi biaya hidup dan pendidikan. Bhandari adalah salah satu contoh mahasiswa yang membiayai pendidikannya sepenuhnya melalui tabungan pribadi dan penghasilan dari pekerjaan paruh waktu.
Menurut Kharel, hasilnya adalah bentuk mobilitas di mana pendidikan dan pekerjaan saling terkait erat, bukan dua tahap kehidupan yang terpisah.
Tiongkok masih menjadi negara asal mahasiswa internasional terbesar di Jepang dengan lebih dari 130.000 mahasiswa. Namun, tingkat pertumbuhan saat ini justru paling tinggi berasal dari negara-negara yang kondisi ekonomi dan politiknya lebih tidak stabil, termasuk Myanmar, yang mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagian besar permintaan tersebut tidak terserap di kota-kota besar, melainkan melalui sekolah bahasa dan sekolah kejuruan di luar Tokyo dan kawasan metropolitan lainnya. Banyak mahasiswa internasional belajar di daerah regional, di mana biaya hidup yang lebih rendah dan jaringan sekolah yang terus berkembang menjadikan wilayah seperti Prefektur Saga sebagai pintu masuk alternatif ke Jepang.
Bagi Bhandari, pindah ke kota baru berarti harus mengurus sendiri pencarian apartemen dan berbagai dokumen administratif, memberinya tingkat kemandirian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Saat ini ia menyewa apartemen studio dengan biaya 28.000 yen per bulan dan bersepeda sekitar 30 menit menuju sekolah setiap hari demi menghemat pengeluaran.
“Saya ingin bekerja di bagian resepsionis hotel dan membangun kehidupan saya sendiri di sini,” katanya. “Harapan saya adalah tinggal di Jepang dalam jangka panjang — idealnya 15 tahun atau lebih.”
Ia memandang pendidikan sebagai jembatan menuju pekerjaan jangka panjang, bukan sekadar pengalaman akademis sementara.
Sementara itu di Tokyo, hari-hari Tamang diisi dengan kuliah lima hari seminggu dan pekerjaan paruh waktu. Ia berbagi apartemen dengan seorang teman sekamar dan membagi biaya sewa bulanan sebesar 60.000 yen. Orang tuanya membantu membayar biaya kuliah, dan ia berusaha mengirim uang ke kampung halaman ketika memungkinkan.
“Mudah bagi saya untuk membayangkan apa yang akan saya lakukan jika tetap tinggal di Nepal,” katanya. “Namun, hidup hanya sekali, jadi saya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda. Saya datang ke Jepang.”
Sumber;
https://www.japantimes.co.jp/