Kōya-Dōfu: Makanan Awetan Tradisional Jepang yang Kaya Rasa
05 Jun 2026 - oleh : KarirJepang.id
05 Jun 2026 - oleh : KarirJepang.id
Kōya-dōfu adalah makanan awetan tradisional Jepang yang dibuat dengan cara membekukan dan mengeringkan tahu (tōfu). Di beberapa daerah, makanan ini juga dikenal dengan sebutan shimi-dōfu atau kōri-dōfu, yang keduanya merujuk pada tahu yang telah dibekukan.
Sejarah kōya-dōfu bermula sekitar 800 tahun lalu, pada zaman Kamakura (1185–1333), di sebuah penginapan kuil di Gunung Kōya, Prefektur Wakayama. Tahu yang telah disiapkan untuk hidangan makan membeku akibat suhu malam yang sangat dingin. Karena tidak ingin menyia-nyiakannya, para biksu tetap memasak dan memakannya. Dari situlah mereka menemukan tekstur dan cita rasa unik yang dihasilkan oleh proses pembekuan tersebut.

Makanan ini kemudian diberi nama kōya-dōfu karena sangat dihargai oleh para biksu di Gunung Kōya dan sering digunakan dalam shōjin ryōri, yaitu masakan vegetarian Buddhis.
Seiring waktu, kōya-dōfu juga menjadi populer di kalangan masyarakat umum. Dahulu, di daerah-daerah beriklim dingin seperti Tōhoku dan Shinshū, terdapat tradisi menggantung tahu di bawah atap rumah selama musim dingin agar membeku secara alami.|
Karena mempertahankan seluruh kandungan gizi tahu biasa, kōya-dōfu kaya akan protein nabati, kalsium, zat besi, serta serat pangan.
Proses pembekuan membuat kōya-dōfu memiliki daya serap yang sangat tinggi, layaknya spons. Ketika direndam dalam kaldu dashi, makanan ini mampu menyerap cita rasa dengan sangat baik. Hasilnya adalah makanan yang rendah karbohidrat dan kalori, namun tetap memberikan rasa kenyang yang memuaskan.
Karena manfaat tersebut, kōya-dōfu semakin mendapat perhatian sebagai makanan sehat yang dapat membantu mencegah berbagai penyakit terkait gaya hidup. Selain itu, karena dapat disimpan pada suhu ruang dalam waktu lama, kōya-dōfu juga cocok dijadikan persediaan makanan darurat.
Berikut beberapa cara populer menikmati kōya-dōfu dalam kuliner Jepang.

Fukumeni adalah hidangan yang menggunakan teknik memasak tradisional Jepang, yaitu merebus bahan secara perlahan lalu membiarkannya meresap dalam kaldu dashi yang melimpah.
Dengan metode ini, kōya-dōfu menyerap kaldu hingga ke bagian dalam. Saat digigit, rasa gurih kaldu langsung memenuhi mulut dan memberikan sensasi cita rasa yang kaya.

Dalam hidangan ini, kōya-dōfu yang telah direndam dalam kaldu dashi dibalut dengan telur kocok, kemudian dimasak hingga semua bahan menyatu.
Hasilnya adalah lauk pendamping yang lezat sekaligus menyehatkan, dengan kandungan protein tinggi dan kalori yang relatif rendah.

Futomaki atau sushi gulung berukuran besar biasanya berisi beragam bahan dengan rasa dan tekstur yang berbeda.
Di wilayah Kansai, kōya-dōfu yang telah direbus dalam kaldu dashi merupakan salah satu isian klasik yang sering digunakan dalam futomaki, memberikan cita rasa gurih dan tekstur yang khas.

Kōya-dōfu juga dapat diolah menjadi hidangan bergaya French toast.
Untuk membuatnya, kōya-dōfu direndam dalam campuran telur dan susu hingga kembali lembut, kemudian dipanggang atau digoreng di atas wajan.
Cara penyajian ini menghasilkan alternatif French toast yang bebas gluten, namun tetap memiliki tekstur lembut dan rasa yang nikmat.
Dari makanan sederhana yang lahir secara tidak sengaja di Gunung Kōya sekitar delapan abad lalu, kōya-dōfu kini menjadi salah satu bahan makanan tradisional Jepang yang dihargai karena cita rasa, nilai gizi, dan daya simpannya yang luar biasa.
Baik disajikan dalam masakan tradisional maupun kreasi modern, kōya-dōfu tetap menjadi bukti bagaimana kearifan kuliner Jepang mampu mengubah bahan sederhana menjadi hidangan yang lezat dan menyehatkan.
Sumber;
https://www.nippon.com/