10 Tradisi Musim Panas Jepang yang Patut Dicoba Tahun Ini
07 Aug 2026 - oleh : KarirJepang.id
Musim panas di Jepang dimulai dengan beberapa minggu hujan tepat setelah Golden Week. Sejak saat itu, cuaca menjadi semakin panas dan lembap. Syukurlah, semuanya tidak seburuk itu. Sepanjang berabad-abad, budaya Jepang telah menemukan cara untuk merayakan setiap musim yang berlalu. Setiap prefektur memiliki bagiannya sendiri dalam festival musim panas, mulai dari kembang api hingga menyajikan hidangan khas daerah untuk mendinginkan tubuh Anda. Meskipun bukan daftar mutlak, berikut adalah rangkuman singkat dari 10 tradisi musim panas Jepang yang perlu Anda coba (jika Anda belum pernah).
1. Festival Kembang Api
Tiongkok, mereka jelas telah meninggalkan kesan yang abadi. Musim panas di Jepang tidak akan lengkap tanpa suara kembang api di kejauhan yang bergema sepanjang malam, berkat banyaknya festival yang diadakan di seluruh penjuru negeri. Meskipun pertunjukan kembang api ada di seluruh dunia, di Jepang hal ini membawa makna budaya yang lebih dalam—menghormati sesuatu yang tidak kekal dan merayakan keindahan alam.
2. Bon Odori
Setiap bulan Agustus, masyarakat Jepang merayakan Obon, sebuah festival Buddha yang menghormati roh leluhur mereka. Selama waktu ini, keluarga berkumpul bersama dan secara simbolis menyambut orang-orang terkasih yang telah tiada kembali ke dunia orang hidup. Hal ini juga bisa sedikit menyeramkan. Salah satu tradisi Obon yang paling mudah dikenali adalah Bon Odori, tarian rakyat yang berakar dari akhir Periode Heian atau Kamakura, yang menyebar luas pada tahun 1600-an. Setiap daerah menambahkan gaya khasnya masing-masing, tetapi pemandangan yang paling umum adalah sekelompok musisi yang tampil di atas yagura (perancah kayu) sementara para penari bergerak dalam lingkaran lambat, baik searah jarum jam maupun berlawanan arah jarum jam.
3. Nagashi Somen
Saat Anda merasa seperti meleleh tetapi masih mendambakan mi, carilah somen (mi gandum yang diiris tipis) atau lebih baik lagi, nagashi (mengalir) somen. Berasal dari Kyushu pada pertengahan tahun 1950-an, nagashi somen melibatkan kegiatan menangkap mi somen yang mengalir di pipa bambu. Ini adalah tradisi yang telah dihormati oleh waktu yang tidak hanya dimaksudkan untuk menyatukan orang-orang, tetapi juga untuk membuat mereka mendinginkan diri. Setelah Anda menangkap minya, cukup celupkan ke dalam tsuyu (saus celup gurih).
4. Yukata
Tetap sejuk di Jepang tidak hanya soal apa yang Anda makan—ini juga tentang apa yang Anda kenakan. Kain ringan seperti katun dan linen membantu Anda bernapas di cuaca panas tanpa merasa terbebani. Yukata (kimono katun kasual) pada awalnya dikenakan oleh para bangsawan setelah mandi, sebuah tradisi yang sudah ada sejak Periode Heian. Saat ini, yukata adalah pemandangan umum di festival musim panas dan di kota-kota onsen (mata air panas), dan bukan hal yang aneh melihat orang-orang mengenakannya secara kasual selama bulan-bulan yang lebih hangat.
5. Suikawari
Suikawari adalah permainan musim panas Jepang klasik yang melibatkan upaya membelah semangka sambil ditutup matanya. Asal usul persisnya tidak jelas. Beberapa orang menelusurinya kembali ke Periode Edo dan awal mula perdagangan dengan Tiongkok, sementara yang lain menyarankan adanya kaitan dengan ritual panen di Afrika. Untuk bermain, semua yang Anda butuhkan hanyalah tongkat pemukul, penutup mata, tikar (sebab bisa menjadi berantakan) dan, tentu saja, semangka. Satu demi satu, para pemain ditutup matanya, diputar, dan dibimbing oleh teriakan teman-teman mereka saat mereka mencoba menghancurkan buah tersebut. Saat semangkanya akhirnya pecah terbuka, semua orang berbagi hadiah yang manis.
6. Taman Bir (Beer Gardens)
Taman bir dan tempat barbekyu di atap bermunculan di seluruh negeri begitu musim panas tiba. Dengan beberapa tempat pembuatan bir kelas dunia di Jepang, tidak heran jika orang Jepang sangat menyukai bir mereka. Lengkapi dengan memanggang beberapa potongan daging sapi premium, dan ini adalah hari keluar musim panas yang sempurna. Taman bir pertama dimulai di Yokohama pada tahun 1875 dan sisanya adalah sejarah.
7. Kakigori
Lebih baik dari es krim, kakigori adalah makanan penutup es serut menyegarkan yang memiliki akar dari zaman kuno. Dulu hanya diperuntukkan bagi kalangan elit bangsawan, kakigori kini menjadi suguhan musim panas yang ada di mana-mana. Minimarket, kedai festival, dan kafe khusus masing-masing menawarkan sentuhan mereka sendiri pada makanan penutup tradisional Jepang ini—semuanya layak untuk dicoba. Rasanya ringan, menyegarkan, dan membuat Anda menginginkan lebih.
8. Kembang Api
Kembang api, atau senko hanabi, sangat cocok untuk kumpul-kumpul musim panas bersama teman dan keluarga. Seperti kembang api pada umumnya, mereka adalah cara untuk menghormati keindahan musim yang berlalu sekilas. Jika Anda lebih suka menghindari keramaian dan menikmati perayaan yang lebih santai, kembang api pegang adalah alternatif yang bagus.
9. Menangkap Serangga
Saat liburan musim panas tiba, para orang tua mengajak anak-anak mereka menangkap serangga di taman dan hutan terdekat. Praktik ini menjadi lebih umum setelah Perang Dunia II, ketika Jepang mulai melakukan modernisasi. Menangkap serangga menjadi sarana untuk membantu anak-anak menghargai dan tumbuh di sekitar alam. Anak laki-laki, pada khususnya, cenderung mengumpulkan jenis serangga paling umum menggunakan jaring kupu-kupu dan menyimpannya di dalam wadah plastik. Tradisi ini juga muncul di video game seperti Harvest Moon dan Animal Crossing.
10. Menonton Kunang-kunang
Sebelum lampu neon dan ponsel pintar menerangi malam, musim panas di Jepang ditandai oleh cahaya lembut kunang-kunang. Hotaru-gari (melihat kunang-kunang) tetap menjadi tradisi musim panas yang penuh nostalgia dan romantis. Serangga ini muncul di awal musim panas, biasanya di dekat sungai yang bersih atau tanah rawa, dan kehadiran mereka yang berumur pendek sering dikaitkan dengan tema kefanaan dan puisi. Festival kunang-kunang masih berlangsung di daerah pedesaan dan perkarangan kuil, di mana orang-orang berkumpul di senja hari untuk melihat sekilas tarian bisu mereka.
Sumber;
https://blog.gaijinpot.com/