Populasi Warga Negara Jepang Turun di Bawah 120 Juta untuk Pertama Kalinya dalam Puluhan Tahun
30 Jul 2026 - oleh : KarirJepang.id
30 Jul 2026 - oleh : KarirJepang.id
TOKYO – Jumlah warga negara Jepang yang tinggal di Jepang turun di bawah 120 juta jiwa untuk pertama kalinya dalam 42 tahun, berdasarkan data pemerintah yang dirilis pada Rabu. Kondisi ini mencerminkan tantangan yang terus dihadapi Jepang akibat rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Menurut Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, per 1 Januari jumlah warga negara Jepang yang tinggal di dalam negeri tercatat 119,74 juta jiwa, turun 0,76 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Survei tersebut, yang telah dilakukan sejak tahun 1968, menunjukkan bahwa jumlah penduduk warga negara Jepang terus menurun selama 17 tahun berturut-turut sejak mencapai puncaknya pada tahun 2009.
Di sisi lain, jumlah warga negara asing yang tinggal di Jepang meningkat 353.696 orang atau 9,62 persen menjadi 4,03 juta jiwa, angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 2013. Kementerian juga mencatat bahwa jumlah orang yang pindah ke Jepang dari luar negeri mencapai rekor tertinggi, yakni 720.988 orang pada tahun 2025.
Dengan memasukkan penduduk asing, total populasi Jepang saat ini mencapai 123,8 juta jiwa.
Berdasarkan prefektur, Tokyo mencatat penambahan warga asing terbesar, yakni 62.479 orang, disusul Osaka dengan 41.401 orang dan Saitama dengan 28.606 orang.
Sementara itu, berdasarkan tingkat pertumbuhan, Hokkaido mencatat kenaikan tertinggi sebesar 14,89 persen, diikuti Okinawa sebesar 14,36 persen dan Oita sebesar 13,9 persen.
Di tingkat kota, Osaka menjadi kota dengan penambahan penduduk asing terbesar, yakni 25.056 orang.
Sedangkan di tingkat kota kecil dan desa, Kutchan di Hokkaido mencatat peningkatan terbesar, yakni 652 orang, yang sebagian besar didorong oleh bertambahnya pekerja asing di resor-resor ski yang populer di kalangan wisatawan mancanegara.
Tokyo juga memiliki persentase penduduk asing tertinggi di antara seluruh prefektur Jepang, yaitu 5,57 persen, diikuti Aichi sebesar 4,66 persen dan Gunma sebesar 4,62 persen.
Sebaliknya, Akita memiliki proporsi warga asing terendah, yakni 0,7 persen, disusul Aomori sebesar 0,79 persen dan Iwate sebesar 1,08 persen.
Berdasarkan kelompok usia, warga asing berusia 25–29 tahun merupakan kelompok terbesar, yaitu 17,7 persen dari seluruh penduduk asing. Kelompok usia 20–24 tahun berada di posisi kedua dengan 16,54 persen, diikuti kelompok usia 30–34 tahun sebesar 13,29 persen.
Menurut Bank Dunia, Jepang memiliki usia median 49,9 tahun, menjadikannya negara dengan populasi tertua kedua di dunia setelah Monako.
Data yang dirilis pada Juni lalu menunjukkan bahwa tingkat fertilitas Jepang kembali turun ke rekor terendah baru pada tahun lalu, mempertegas krisis demografi yang terus membayangi perekonomian terbesar keempat di dunia tersebut.
Krisis yang berlangsung secara perlahan ini telah menyebabkan berbagai tantangan, seperti kekurangan tenaga kerja, membengkaknya biaya jaminan sosial, serta menyusutnya basis penerimaan pajak.
Data pemerintah menunjukkan bahwa total fertility rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya turun 0,01 poin dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 1,14, sekaligus menjadi penurunan selama 10 tahun berturut-turut.
Jumlah bayi yang lahir di Jepang juga turun hampir 15.000 kelahiran, menjadi sedikit di atas 670.000 bayi, angka terendah sejak pencatatan dimulai pada tahun 1899.
Di tengah tantangan tersebut, muncul sedikit kabar positif bulan ini ketika pemerintah Tokyo mengumumkan bahwa 265 pasangan berhasil menikah berkat aplikasi pencari jodoh berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama TOKYO Enmusubi.
Aplikasi tersebut diluncurkan pada September 2024 setelah sebuah survei menemukan bahwa sekitar 70 persen orang yang ingin menikah tidak secara aktif mengikuti kegiatan pencarian pasangan.
Untuk mengatasi keraguan tersebut dan memastikan hanya orang yang benar-benar ingin menikah yang dapat bergabung, para pendaftar diwajibkan membuktikan bahwa mereka belum menikah secara sah, menjalani wawancara daring, serta memenuhi sejumlah persyaratan lainnya.
Hingga 30 Juni tahun ini, aplikasi tersebut memiliki 16.000 anggota terdaftar, yang disaring dari sekitar 36.000 pendaftar, serta telah menghasilkan 760 pasangan yang menjalani hubungan serius, menurut data pemerintah yang dirilis bulan ini.
Pemerintah juga mengutip pengalaman seorang pengguna dengan nama samaran "Turtle", yang mengaku mencoba aplikasi tersebut sebagai "kesempatan terakhir" menjelang ulang tahunnya yang ke-40.
"Setelah beberapa kali menjalani kencan buta, saya bertemu dengan suami saya saat ini pada akhir Agustus, dan kami mulai menjalin hubungan serius pada pertengahan September," ujarnya.
"Saya menerima lamaran pernikahannya pada akhir Desember."
Sumber;
https://www.japantimes.co.jp/