Top
62-811-9696-9166 - Raya
news

Kuil di Kyoto Larang Pengunjung Mengenakan Kimono

04 Sep 2026 - oleh : KarirJepang.id


Kuil di Kyoto Larang Pengunjung Mengenakan Kimono

Pengunjung kuil berusia 600 tahun dilarang mengenakan pakaian tradisional menyusul masalah yang disebabkan oleh mereka yang lebih mementingkan foto media sosial yang keren daripada tata krama dasar (基本的なマナー, kihonteki na manaa).


Seiraiin (西来院) adalah sebuah kuil (寺, tera) di distrik Gion (祇園), Kyoto, yang didirikan sekitar 600 tahun lalu dan dikenal dengan tamannya yang indah serta lukisan naga putih yang dinamis di langit-langit aula utamanya (本堂, hondou). Biasanya, estetika tradisionalnya akan menjadikannya tempat yang sempurna untuk dikunjungi pada hari tamasya sambil mengenakan kimono (着物).


Namun, Seiraiin baru-baru ini mengumumkan bahwa calon pengunjung yang mengenakan kimono dilarang memasuki area kuil.


▼ Lukisan naga putih Seiraiin, di mana pengunjung disarankan untuk melihatnya sambil berbaring di lantai anyaman jerami tatami (畳, tatami) dan menatap ke atas.




Alasan dari kebijakan tak terduga yang diumumkan pada bulan Juli ini, adalah sesuatu yang menjadi terlalu umum di Kyoto: turis yang tidak sopan (マナーの悪い観光客, manaa no warui kankoukyaku). Pihak kuil mengatakan bahwa mereka telah mengalami masalah dengan orang-orang yang datang untuk mengambil foto yang rumit dan mengganggu di area kuil. Selain menyulitkan pengunjung lain untuk menggunakan fasilitas kuil sebagaimana mestinya (sebagai tempat untuk memanjatkan doa dan mengapresiasi seninya), pihak kuil mengatakan telah terjadi beberapa contoh di mana pengunjung memasuki area terlarang dan menyebabkan kerusakan pada kuil saat berpose untuk foto, seperti melangkah ke taman batu berpasir (枯山水, karesansui) atau membuka pintu geser (襖, fusuma / 障子, shouji) tanpa izin dan merusaknya dalam proses tersebut.


Tidak ada satu pun dari kerusakan tersebut yang terjadi sebagai akibat langsung dari pemakaian kimono, dan pihak kuil telah menyatakan bahwa keluhannya bukan pada praktik mengenakan pakaian itu sendiri. Namun, proporsi pengambil foto bermasalah yang mengenakan kimono cukup besar sehingga pihak kuil tampaknya menyimpulkan bahwa melarang pakaian semacam itu adalah tindakan pencegahan yang diperlukan terhadap pengunjung yang merasa bahwa mendapatkan foto diri mereka yang keren untuk diposting di media sosial lebih penting daripada bersikap sopan atau melestarikan situs budaya (文化財, bunkazai).


Selain kimono, Seiraiin juga menetapkan aturan yang melarang pemakaian "pakaian bergaya Jepang" (和装, wasou) dan "kostum" (コスチューム, kosuchuumu). Ini tampaknya juga bukan keputusan yang diambil secara mendadak. Seiraiin adalah salah satu dari sejumlah sub-kuil (塔頭, tatchuu) yang terletak di dalam batas Kuil Kenninji (建仁寺), yang mana kuil utamanya itu sendiri telah memposting pernyataan di situs webnya pada bulan November tahun lalu, mengingatkan pengunjung bahwa "Kuil kami bukanlah studio foto, taman hiburan, atau fasilitas serupa," dan bahwa pengunjung yang menunjukkan perilaku tidak sopan atau tidak pantas akan diminta untuk pergi.


Situasi ini berkaitan dengan banyak poin berbeda tentang tradisi budaya Jepang dan tempatnya dalam masyarakat modern. Sebagai permulaan, Jepang tidak memiliki tabu (larangan) terhadap orang non-Jepang yang mengenakan kimono, dan sebagian besar penduduk lokal senang melihat orang asing (外国人, gaikokujin) mengambil minat partisipatif dalam adat istiadat negara tersebut. Hal ini juga sebagian besar dipahami dan diterima bahwa mereka yang tertarik dengan mode klasik Jepang sering kali juga menikmati estetika tradisional lainnya, itulah sebabnya toko penyewaan kimono (着物レンタル, kimono rentaru) sering ditemukan di kota-kota dan lingkungan dengan kawasan bersejarah, seperti Kyoto. Dan meskipun kuil-kuil di Jepang, tentu saja, merupakan institusi keagamaan, bahkan banyak pengunjung Jepang yang tertarik ke sana karena kualitasnya yang indah (fotogenik) atau signifikansi sejarahnya lebih daripada semangat spiritualnya. Banyak kuil merangkul sifat fotogenik dari daya tarik mereka, termasuk Seiraiin, yang memiliki ruang di mana pengunjung dapat menikmati makanan ringan sambil memandang ke tamannya.




Namun, jika ada satu aturan yang mengalahkan semua aturan lainnya dalam budaya Jepang, itu adalah memikirkan perasaan orang lain (思いやり, omoiyari), dan ini adalah pelanggaran yang jelas terhadap hal tersebut jika Anda memperlakukan kuil layaknya tempat foto sewaan pribadi Anda.


Seiraiin tampaknya menjadi satu-satunya kuil sejauh ini yang melembagakan aturan tanpa-kimono, tetapi dengan pariwisata berlebihan (観光公害, kankou kougai / overtourism) menjadi sesuatu yang dipikirkan oleh hampir setiap destinasi penting di Kyoto, tidak diragukan lagi bahwa yang lain sedang mengawasi untuk melihat hasilnya. Harapannya, jika dan ketika situasinya membaik, Seiraiin akan merasa nyaman untuk mencabut batasan tersebut, tetapi untuk saat ini, ini adalah pengingat bagi semua pelancong untuk menghindari bertindak seperti orang egois yang menyebalkan dan merusak keadaan bagi orang lain.






Sumber;

https://soranews24.com/

map
KarirJepang blog

other_news

blog

Japan Railways Mengumumkan Tiket Kereta ...

Cara yang bagus untuk menjelajahi rute-rute tersembunyi di Jepang pada musim gugur ini.Anda dapat be...

blog

Pria Asal Indonesia Bekerja di Kapal Pen...

ECHIZEN, Fukui -- Seorang pria Asal Indonesia berusia 19 tahun sedang bekerja keras di kapal penangk...

blog

Survei: 35% Anak Muda Lajang di Jepang M...

Tiga puluh lima persen anak muda yang belum menikah (未婚, mikon) di Jepang mengatakan mereka tida...

blog

Pembukaan Tempat Baru! OSAKE dan WORLD O...

Senang rasanya melihat Tokyo kembali hidup dan rasanya hampir seperti kita kembali normal dengan ban...

blog

Apakah Izin Tinggal Tetap di Jepang Masi...

Selama bertahun-tahun, Izin Tinggal Tetap di Jepang atau Permanent Residency (永住権, eijuuken / ...

blog

Hal Terbaik yang Bisa Dilakukan di Arima...

Jepang memiliki banyak kota pemandian air panas, tetapi hanya sedikit yang memiliki sejarah sepanjan...

map
KarirJepang.id

our_partners